RSS

Cerita Skripsi

Malam yang aneh dengan cerita yang aneh juga. Nyata tapi aneh..
Tepatnya gini percakapannya...
A: (Aku)
T: (Temen)

A: Kapan mulainya skripsi el? Udah karatan ini...
T: Ngetik aja pep dikit bab 1 & 2
A: Uda nulis kau?
T: Uda bab 1 & 2
A: Asiiik aku belon, minta format laporannya?
T: Masih belon lengkap pep.. (!"-_-)
A: Udah selesai CISCO? (sebuah program pelatihan jaringan yang sedang diadain dikampusku)
T: Udah pep tinggal nunggu sertifikat aja..
A: Asiik kapan ngerjain?
T: Tiap hari pep, 1 kalimat aja...
A: Udah berapa kalimat?
T: Hmmm... (mikir kali ya) 10 lah kira2 pep...
A: %$$%??!!^%#@........

Buseeett 10 hari 10 kalimat. Nyata bener si...

Halusinasi

Percakapan pagi hari baru dateng ke kantor...
Aku : "Eh, nyium bau pisang goreng gag di bawah tadi??"
Temen A : "Bukan bau pisang goreng"
Aku : "Trus bau apa?"
Teman A : “Bau tembakau.”
Aku : “????” (ekspresi blo’on)
Teman A : “Blakang kantor pabrik tembakau kan”
Aku : “Ooohhh” (tampang sok cool tapi malu)
Temen A : (diem)
Teman B : “Idungmu berhalusinasi tuh bau tembakau dibilang bau pisang goreng.” 
Aku : “Bruwakkakakakaka...”
Dapet dari mana tuh anak kata2 halusinasi, kek idung itu bisa mikir gitu, buahahaha...

Cinta Seorang Sahabat

Duniaku hanya sendiri, itu yang aku rasa saat ini. Hanya aku dan Bi Imah, pengasuhku sejak bayi hingga sekarang. Bi Imah sebatang kara, suaminya pergi meninggalkannya demi perempuan lain 20 tahun yang lalu. Anaknya semata wayangnya turut serta dengan suaminya yang sekarang entah berada dimana. Keluarganya sudah tak perduli dengannya, karena tak menyetujui hubungan antara Bi Imah dan suaminya. Sungguh nasib yang malang. Bi Imah orang yang baik, tak pernah ia menuntut sesuatu. Ia rela bekerja apapun hanya demi tempat tinggal dan sesuap nasi. Bi Imah pernah bilang "Non, bibi ikhlas kerja di sini. Asal bibi dibolehin tinggal disini n bisa makan. Enggak di gaji enggak apa-apa non." Miris rasanya aku mendengarnya, walaupun pada saat itu aku masih berusia 10 tahun. Seorang wanita tegar yang di tinggal suaminya dan di acuhkan oleh keluarganya masih mampu untuk tersenyum. Aku tahu di dalam hatinya pasti menjerit. 

Aku hanya tinggal dengan Bi Imah. Orang tuaku yang terlalu sibuk hampir tak pernah bertatap muka denganku. Walaupun di hari sabtu atau minggu sekalipun. Bisa di hitung berapa kali dalam sebulan aku bisa meliahat wajah mama dan papa. Tapi semua kebutuhanku selalu tercukupi dan Bi Imah yang menyediakannya. Aku merasa Bi Imah lah orangtuaku sebenarnya. Ia sudah aku anggap sebagai ibuku sendiri. Orangtuaku tak pernah ada di rumah setiap kali aku pulang sekolah. Terlalu sepi jika rumah sebesar ini hanya di tempati oleh 2 orang saja setiap harinya, aku dan Bi Imah.

Aku ceritakan juga, aku punya sahabat kecil. Nama yang unik menurutku, Qian panggilannya. Saat itu aku berusia 5 tahun, aku sedang bermain dengan Bi Imah di sebuah taman kompleks. Aku sedang bermain ayunan tiba-tiba ia muncul di sampingku bermain ayunan juga. Ayunan itu sepasang, hanya rantai yang di gantungkan di tiang penyangga dan sebuah kayu yang berada di bawahnya. Ia menatapku seolah melihat makhluk dari planet lain. Aku hanya tersenyum sinis, kemudian aku kembali berayun tanpa menghiraukannya. Bosan berayun aku beranjak pergi dan hanya duduk di sebuah jamur kecil yang berada di sekitar arena bermain. 
"Hai, aku Qian. Nama kamu siapa?" 
Tiba-tiba saja si bocah laki-laki yang tadi di sampingku bermain ayunan sudah ada di sampingku kembali. Aku kaget, sejak kapan ia ada di sini? Tak ku jawab pertanyaannya. Aku kembali diam.
"Hmmm.. Apa aku boleh temenan sama kamu?" lanjut si boccah laki-laki itu yang ikut duduk di sampingku di sebuah jamur yang agak tinggi. 
"Boleh." aku hanya menjawab seadanya.
"Nama kamu siapa?" si bocah laki-laki itu mengulurkan tangan tanda perkenala.
"Aku Ara." aku menyambut uluran tangannya.
"Kamu tinggal di sebelah mana?"  
Aku hanya menunjuk sebuah rumah bercat krem yang begitu kokohnya berdiri di dekat taman, begitu tampak besar terlihat.
"Ooh disitu?" si bocah laki-laki itu menujuk ke arah yang ku tunjuk "Kapan-kapan boleh aku main kerumahmu?"
Aku hanya menjawab dengan anggukan.
"Kalau kamu mau main ke rumahku, rumahku yang itu. Cat warna  hijau yang ada di ujung jalan itu. Tuh keliatan kok. Kamu boleh dateng kapan aja." si bocah itu menunjukan rumahnya seraya tersenyum.
Aku hanya melihat apa yang ia tunjuk.
"Qiiiaaaann!!!" Sebuah suara memanggilnya dari kejauhan.
"Aku pulang dulu ya. Ibuku sudah memanggil. Kapan-kapan aku main kerumahmu." Si bocah itu berbicara kepadaku sambil tersenyum dan kemudian pergi.
Aku tak bergeming dari tempatku. Hanya menoleh sekilas ke arah suara yang memanggil bocah kecil itu.

Jadi bocah kecil itu adalah Qian. Sejak perkenalan itu aku sering bertemu dengannya di taman. Aku tak pernah memperhatikan sekeliling. Ternyata Qian sering juga bermain di taman itu tapi aku tak pernah tahu. Qian adalah anak selalu ceria. Qian selalu membuatku tertawa dengan tingkahnya. Aku lebih sering bermain di rumahnya ketimbang ia bermain ke rumahku. Entah kenapa aku merasa nyaman dengan kehangatan keluarganya. Qian mempunyai seorang kakak perempuan bernama Vian dan seorang adik perempuan bernama Dian. Qian anak laki-laki semata wayang. Tetapi keluarga Qian begitu harmonis, setiap sabtu dan minggu mereka selalu berkumpul dan mengadakan acara kecil-kecilan seperti menonton film anak-anak bersama, mengadakan acara memasak bersama, bernyanyi bersama dan terkadang mereka juga pergi keluar rumah untuk rekreasi. Ayah Qian seorang pebisnis tapi masih sempat meluangkan waktu untuk ketiga anaknya, sedangkan papaku pebisnis dan jarang ada di rumah. Ibu Qian seorang ibu rumah tangga, sedangkan mamaku sibuk bekerja mengurusi perusahaannya. Aku mulai membanding-bandingkan orangtua Qian dengan orangtuaku. Berbeda 180 derajat.

Sampai suatu ketika, hari itu pun tiba. Saat itu aku berusia 15 tahun. Persahabatan antara aku dan Qian pun sudah terjalin 10 tahun lamanya. Aku duduk di atas jamur favoritu dan Qian duduk di sampingku di jamur yang lebihh tinggi.
"Ara, aku harus harus ngomong ini sama kamu." ujar Qian
"Ngomong apa?" perasaanku sudah tidak nyaman.
"Aku.... Aku...." Qian hanya terbata-bata berucap.
"Aku apa Qian?" tanyaku penasaran.
"Aku harus pergi." ekspresinya begitu sedih tak biasanya ia bersedih.
"Pergi? Pergi kemana?"
"Aku harus pergi dari kota ini."
"Kemana?" aku mulai menitikkan air mata.
"Hei, jangan menangis! Aku janji aku pasti akan kembali." seru Qian tetap dengan nada lembutnya.
Lidaku kelu tak mampu berbicara. Hanya air mata yang menetes dipipiku.
"Ara, jangan menangis. Kita masih bisa berkomunikasi dengan telepon dan internet. Sebenarnya aku tak ingin ikut, tapi kedua oranguaku memaksa. Mereka bilang nanti siapa yang akan urus kamu disini dan tidak ada pengawasan orang tua. Lebih baik kamu ikut ayah dan ibu ke Sidney dan kamu juga bisa sekolah lebih baik disana. Aku tidak bisa menolak."
"Tapi janji kamu akan menemuiku setelah kamu kembali?" tanyaku masih dalam tangis.
"Aku janji. Aku pun meminta orangtuaku supaya aku kuliah di sini nantinya, di Indonesia. Percayalah. Jangan menangis lagi aku pasti akan selalu ada untukmu."

Aku tepat berdiri didepan sebuah rumah, rumah bercat hijau selalu di cat dengan warna hijau,ya rumah Qian. Seminggu yang lalu aku masih sempat bermain di dalamnya tapi kini menjadi sepi di tinggal pemiliknya. Rumah hijau ini yang memberi aku kenyamanan, kehangatan dan kemseraan sebuah keluarga tapi kini hanya meninggalkan kenangan. Rumah hijau ini yang selalu terbuka untukku tapi kini tertutup rapat dengan tulisan "DISEWAKAN" di pagarnya. Tak terasa air mata sudah membasahi pipiku. Aku tak kuasa menahan tangis, begitu pilu dengan kepergian seorang sahabat yang telah memberikanku pelajaran berarti. Kini semua berubah sepi seperti 10 tahun lalu sebelum aku bertemu dengan Qian.
***

Aku sempat mengantar Qian ke bandara. Sebelum kepergian Qian, ia memberikanku sebuah kotak berukuran sedang. Aku pikir kotak itu berisi barang-barang yang harus di bawa ke sidney tetapi sebenarnya kotak itu untukku. Ku buka saat itu juga pemberian dari Qian. Isinya sebuah boneka lumba-lumba berwarna biru muda berukuran sedang. Aku langsung memeluknya dan aku beri nama Qian.

Setahun sudah Qian pergi. Setahun juga orangtuaku tak pernah ada perubahan. Setahun juga kini aku hanya tinggal dengan Bi Imah tanpa kehangatan keluarga Qian dan Qian. Sepi yang aku rasa saat ini. Selama setahun,komunikasi kami 1 bulan pertama lancar, kami sering berbagi bersama di sebuah jejaring sosial dan sebuah layanan chating. Terkadang Qian meneleponku dari Sidney hanya untuk sekedar menanyakan kabarku. Aku senang sekali. 3 bulan berlalu komunikasi kami sudah mulai jarang, mungkin Qian sibuk disana. Pendidikan disini tidak sama dengan pendidikan di sana. 6 bulan berlalu komunikasi kami jadi semakin jarang, aku menyapanya, tak pernah ada balasan darinya. Dan 1 tahunpun berlalu,aku sudah kelas 1 SMA, tetapi komunikasi kami terputus. Di tidak lagi pernah terlihat online dan tidak juga meneleponku. Aku coba telepon Qian ke Sidney tapi percuma tidak ada jawaban. Aku begitu sedih, kemana Qian ku? Sekarang, Qian pasti kelas 2 SMA. Aku rindu dengan Qian, ku peluk si Qian, boneka lumba-lumba berukuran sedang pemberian Qian dulu.

Aku rindu sahabatku, aku rindu kehangatan bersama keluarga. Tak ada yang bisa menggantikan Qian, teman-teman sekolahku pun tidak. Sekarang aku hanya wanita pendiam yang tak banyak bicara di sekolah. Berbeda dengan aku ketika SD dan SMP yang selalu ceria. Ya sejak kepergian Qian setahun lalu aku menjadi seperti ini. Hidupku selalu di bayang-bayangi Qian. Hanya Qian yang aku pikirkan, sampai-sampai diriku tak terurus badanku terus menciut dan nilai-nilai pelajaranku menurun. Tapi aku harus bangkit, aku tak boleh seperti ini. Qian pernah janji akan menemuiku kelak jika ia sudah lulus SMA dan melanjutkan kuliah disini. Apa jadinya seandainya Qian melihatku nanti dengan keadaanku seperti ini. Aku harus bangkit, aku harus punya semangat ,demi Qian. Aku percaya Qian akan menemuiku aku tahu dia bukan orang yang suka berbohong, dia selalu menepati janjinya.

Aku mulai menata hidupku, aku mulai merapikan diriku, aku mulai hidup teratur dan memperbaiki semua nilai-nilai pelajaranku. Aku seperti mempunyai semangat baru walau orang-orang sekelilingku tak pernah mendukungku. Aku harus berusaha mencapai cita-citaku sebagai pramugari. Aku pernah berjanji pada Qian aku akan menjadi pramugari profesional yang bisa keliling dunia dan cita-cita Qian adalah menjadi seorang pilot. Aku pun berbeda dari aku yang sebelumnya aku yang semasa SD dan SMP. Tampak lebih segar dan lebih ceria dari sebelumnya. Aku berubah.

Kelululusanpun sudah di depan mata, ujian nasional pun akan segera di mulai untuk SMA. Aku mempersiapkan semuanya dengan baik. Aku belajar dengan giat semua buku kulalap habis tak luput juga browsing dari internet. Penat rasanya belajar malam ini, iseng aku buka email ku, sudah hampir 2 minggu tak ku buka karena sibuk dengan  persiapan menuju ujian nasional. Berharap ada email dari Qian. Tetapi tidak ada email penting hanya notifikasi dari situs jejaring sosial. Tapi tunggu "Ini siapa?" aku bergumam sendiri. Kulihat emailnya Pangeran_Q@blabla.com di pesan masuk. Aku klik isi pesannya. Aku penasaran siapa ini? Mungkinkah Qianku? Atau hanya seseorang yang hanya menawarkan produknya?

Bersambung...