RSS

Trip to Bali Part 3

Setelah gagal mencoba pake bahasa inggris gue berniat gag pake tuh bahasa lagi, terlalu rumit dan ribet. Ternyata setelah di koreksi hmm banyaaaaaak sekali kesalahan. Sudah cukup gue berhubungan dengan lo, kita putus (berasa sinetron). Pake bahasa Indonesia aja deh, jadi ceritanya Cinta Indonesia gitu. Gue cinta lo Indonesiaaaa. Cerita ini rombakan dari cerita gue yang English Version intinya sama hari terakhir di Bali.

Waktunya berkemas dan akan kembali ke kehidupan nyata (emang gue pas di Bali idup di mana???), dari mulai subuh sampe jam 07.00 WITA baru selesai. Oke barang-barang siap di angkut ke mobil. Gileee banyak bener bawaannya. Gue sekeluarga sarapan di hotel abis sarapan langsung berangkat. Gue dan keluarga gag langsung balik ke Lampung, kita masih punya 1 tujuan yaitu Tanah Lot. Gue mikir Tanah Lot itu bentuknya gimana? Dan apa pula Tanah Lot itu? Yang gue tau Tanah itu ya tanah trus Lot it keras (dari bahasa jawa alot) jadi kalo di artiin tanah keras. Gue rasa tanah semuanya keras dan gag bisa dimakan (yang mau makan tanah itu siapa, manusia sarap?). Ah penting gag gue pikirin yang peniting itu gue ada di Bali pulang trus pamer, kembali ke tujuan semula. (Tuhan ampuni gue udah sombong waktu itu). Semakin gue gag mau mikirin, semakin penasaran gue dengan Tanah Lot. Gue tanya aja deh ke Kak Sisi "Kak, Tanah Lot itu apa Kak?"
Kak Sisi jawab "Tanah Lot itu tempat wisata, ada lautnya juga disana."
"Ooooohh... Nanti boleh maen air disana?"
"Gag boleh gag ada baju ganti."
Hancur perasaan gue saat itu, waktu SD gue kalo uda ketemu air bawaannya mau maen aiiiirr mulu. Pupus harapan. Tapi gue masih penasaran dengan arti kata Tanah Lot. Gue tanya lagi "Kak artinya Tanah Lot apa?"
"Tanah Lot itu artinya tanah yang terletak di selatan pulau Bali."
Gue cuma bilang "Ooooo..."
Oke gue dah sampe Tanah Lot. Tapi kok yang gue liat cuma toko-toko baju doank, mana lautnya? Gue nanya lagi dan ini pertanyaan gue yang kesekian puluh kali nya sepajang perjalanan ke Tanah Lot. "Kak ini dimana?" (berasa kaya orang amnesia nanya gini)
"Ini Tanah Lot" (Untung gag dijawab kakak gue "ini di neraka")
"Trus mana lautnya? Tadi Kak Sisi bilang ada laut? Mana?"
"Gag disini, tapi disana." Nunjuk ke arah toko souvenir.
"Mana? Itu kan toko baju doank. Kak Sisi bohong nih."
"Di balik toko itu!" Mulai sebel dengan pertanyaan omongan gue.
"Ayo kak! Kita langsung ke sana kan?"
"Iiiiissshh nanti dulu, kita belanja dulu baru nanti kesana!" bener-bener sebel keliatannya.
Gue pun gag nanya lagi cuma ngebatin "Ni orang ngalah-ngalahin raja nenek sihir, galaknya minta ampun" Harpan gue pupus lagi mau liat laut secepatnya dan gue tau ini bakal makan waktu lama kalo udah gini. Biasa emak-emak kalo belanja suka rempong. "Hellooooooo... Gue gag mau belanja gue cuma mau liat laut. OMG. Mimpi apa gue semalem, Tuhan keluarkan aku dari sini." (ngomong dalem hati tentunya).
Oke bener apa kata gue, hampir 3 jam buat belanja doank. Gue udah jenuh lebih tepatnya jenuh akut. Gue serasa mau balik aja ke mobil duduk-duduk ama sopirnya ato ga tidur dalem mobil, tapi apa daya itu cuma khayalan. Tapi tunggu, gue ngeliat sesuatu berwarna biru, apa itu laut? Yak bener itu laut, ooh God akhirnya penderitaan berjalan sepanjang pasar di Tanah Lot, yang cuma jual baju n sovenir, gue sampe juga di penghujung toko dan sekaligus mengakhiri proses belanja berbelanja. Lauuut ayem kamiiing!!
Gue udah gag sabar, gue lari. Di situ ada sebuah tebing yang di bawahnya terdapat ombak besar yang menghantam tebing itu. Keren, suaranya sampe terdengar, keras sekali bunyinya. Gue suka. Angin juga gag kalah deras menghantam badan gue yang gag proporsional ini. Rambut gue berkibar indahnya dan badan gue juga berkibar dengan indahnya, berkali-kali gue hampir jatoh kebawa angin. Yeah resiko badan tidak proporsional. Lama gue berdiri di tebing itu, rasanya sungguh dekat dengan Tuhan. Sampai akhirnya Kak Sisi mengajak gue ke sebuah goa di bawah tebing. Tentunya airnya gag dalem. Oke gue ikut. Di goa itu ada seekor ular besar sekali. Semacam ular phyton melingkar di dalam goa itu. Gue masuk dan di ajak untuk memegang ular tersebut. Tentunnya dengan di dampingi pawang yang menjaga ular itu. Ada sensasi hebat dalam diri gue waktu gue mau megang ular tersebut, gue keringet dingin, gue pucet, gue galau, gue bimbang, gue resah, gue gelisah (lebay bener dah ini), intinya gue nervous bukan bukan gue takut lebih tepatnya. Oke gue beraniin buat megang tuh ular.  Dan yak kulitnya kasar-kasar halus, badannya lembek-lembek hiyaaa ini ular meeen ular, horeee gue megang ular. Bahagia rasanya. (lebay lagi daaaah).
Siang pun tiba, makan siang pun tiba. Gue dan keluarga makan di warung disekitar Tanah Lot. Setelah makan siang, untuk yang terakhir kalinya gue mandang ke arah laut di pinggir tebing. Bagus banget, gue hirup udaranya, aaahhh nyaman banget rasanya. CiptaanMu yang begitu sempurna.  Ini hari terakhir gue di Bali suatu saat gue pasti akan kembali kesini. Tuhan Bali-Mu indah.
Oh ya, dan setelah gede gue baru tau kenapa dikasih nama Tanah Lot tempat ini, Tanah berarti batu karang dan Lot adalah laut jadi disimpulkan Tanah Lot itu adalah batu karang yang terletak di tengah laut. Bener-bener pemikiran bodoh sekali waktu itu, ini Bali bukan Jawa.

0 komen:

Posting Komentar